Begitulah aku menyebutnya
kali ini, aku tak ingin membuatnya menjadi sudut pandang ketiga
aku ingin membuatnya, mewakili diriku
**
Tak akan ada yang tahu bagaimana datangnya dengan dan pada siapa dia menuju
Rindu akan muncul tanpa ada yang meminta
tanpa ada yang mengharapkan tanpa ada yang memikirkannya sekalipun
Begitulah yang kurasakan
tanpa pernah tau bagaimana gejalanya hanya terlintas begitu saja dalam benak
bagiku, tak perlu melibatkan logika hanya membiarkannya meracuni batinku
Inginku berontak berlari berteriak bahkan mengungkap pada seseorang yang dituju
Apalah daya jika batin dan fisik tak sejalan bagai pendemo yang berlawanan dengan polisinya
**
Hai, apa kabar(?)
Hai, apa yang sedang kau kerjakan (?)
Hai, apa yang kau senangi saat ini(?)
Hai, bisakah aku menemuimu(?)
Hai, bolehkah aku ikut kau menjelajah(?)
Hai, bolehkah aku bersamamu (?)
Hai, bolehkah aku masuk dalam duniamu(?)
Hai, Hai, dan banyak sapaan yang tak terungkap
begitu banyak hal yang kusembunyikan darimu sekalipun itu dekat, tak bisa ku berterus terang
**
Semakin kau mendekat, rindu ini semakin tak tertahankan
semakin kau mendekat, semakin banyak sesal dan tanya mengapa aku bisa menjauh darimu selama ini
semakin kau mendekat, semakin ku tak wajar, hilang logika
yang tersisa hanyalah hayalan yang meracuni rasa
rasa percaya bahwa kau masih yang dahulu
**
Rindu semakin menjalar dan disaat itulah kuingin berlari kearahmu, mendekat, bercengkrama, menghabiskan waktu bersama
namun, aku sadar, tak semua hal selalu sama tak semua hal tetap tak semua statis
**
Betapa bodohnya aku yang masih disini, tetap tinggal dengan rasa yang sama bahkan meningkat tak tertahankan disetiap waktunya meradang, diam membisu bersama kenangan yang mengahantui bersamaan dengan itu, dengan sekuat tenaga menyegelnya dikala merindu
Betapa pengecutnya aku, tak mengungkap sejak awal tak membiarkanmu tahu akan hal ini
Betapa pengecutnya aku selalu berlari menghindarimu, walau aku ingin diam-diam menyelami sosokmu, bahkan tak seinci tindakanmu luput dari lensa mataku
**
Mungkin ini hukuman bagiku membiarkanmu mengungkap, tanpa pernah tahu jawaban dariku membiarkanmu memandangiku seorang diri
membiarkanmu berlari mendekat, seolah aku menjauh
membiarkanmu selalu mencariku, dan inilah, hukuman yang tepat bagiku
**
Maaf telah membuatmu kecewa,
telah membuatmu pernah menunggu
terima kasih telah mengajarkanku rasa ini
mengenalkan aku akan dunia fantasi ini
**
Maaf,
Terima Kasih,
dan aku
Rindu ….
(h.p)
Selasa, 02 Februari 2016
Langganan:
Komentar (Atom)